Project Info

Location

Panaragan Jaya, Tulang Bawang Barat, Lampung.

Client/Owner

The Regency Government of Tulang Bawang Barat

Site

50 000 m2

Floor

10 150 m2

Design Date

2020

Contruction Date

unbuilt

Architect

Hasan Halim, IAI


    Warning: Invalid argument supplied for foreach() in /home/h4s4nh/public_html/wp-content/themes/structurepress-pt-child/single-portfolio.php on line 119
[ English ] [ English ]

 

Proposal untuk the Sayembara Perancangan Arsitektur, diselenggarakan oleh Pemerintah Kabupaten Tulang Bawang Barat dan Ikatan Arsitek Indonesia, 2020

Arsitek mengajukan rancangan Kompleks Kantor Bersama Kabupaten Tulang Bawang Barat dengan intensi menciptakan halaman depan yang membangkitkan kegiatan warga kota dan menjadikannya sebagai bagian dari ruang publik kota yang menarik. Hal ini dicapai dengan membuat transisi yang berlanjut dari trotoar kota ke dalam tapak. Ruang luar dirancang sebagai ruang yang inklusif dengan ramp dan peralihan yang nyaman, juga dilengkapi dengan tangga-tangga dan amphiteater (sebagai tempat duduk-duduk), lapangan rumput dengan pohon peneduh, dan sebuah kolam besar pemanen air hujan sebagai kolam pemantul.

Semua ruangan mendapatkan cahaya alami siang hari dengan banyak bukaan; pada saat yang sama terhindar dari sinar matahari langsung dengan kisi-kisi penahan sinar matahari dan overstek yang lebar. Ovestek yang lebar juga menjadi sarana meneduhi bukaan dan ruang-ruang selasar dari tampias hujan. Semua ruang sirkulasi menggunakan ventilasi alami, hanya ruang-ruang kerja yang dilengkapi dengan pengondisi udara mekanik. Semua ruang kerja juga dilengkapi jendela yang dapat dibuka untuk opsi ventilasi alami bila diperlukan. Banyak ruang dirancang sebagai ruang terbuka, meliputi galeri, selasar, kantin, pendopo, dan lobby.

Rancangan tapak berupa massa-massa banguna yang terhampar di tengah “hutan” dengan lansekap hujau dari halaman dan ruang antar-bangunan.

Sebagaimana Lampung adalah daerah yang kaya akan bahan mineral keramik, genteng dan bata lokal digunakan sebagai bahan bangunan utama. Pola ragam hias tradisional dari pola sulam cucuk diadopsi menjadi pola susunan bata. Dari jauh, dinding bata itu terlihat seperti sulam cucuk.

Terinspirasi dari deretan rumah-rumah tradisional di daerah tersebut, bangunan-bangunan ditata dengan atap plana yang berderet. Sebuah garis diagonal yang searah Kiblat menjadi jalan menuju masjid dan memberi variasi yang menarik di tengah susunan tapak dengan grid ortogonal.

 


[ Bahasa Indonesia ]

Entry Proposal for the Architectural Design Competition held by the Regency Government of Tulang Bawang Barat and the Indonesian Insitute of Architects, 2020

The architect proposed the design of the Tulang Bawang Barat Regency Joint Office Complex with the intention of creating a front space that generates the activities of the citizens and makes it part of an attractive urban public space. This is achieved by making a continuous transition from the city road sidewalks into the site. The outdoor space is designed as an inclusive space with convenient ramps and transitions, also equipped with stairs and an amphitheater (as seating), a grass field with shade trees, and a large rainwater harvesting reflecting pond.

All rooms get plenty of natural light during the day with lots of openings; at the same time protected from direct sunlight with sun shadings and wide roof overhangs. The wide overhang also serves as a means of shading the openings and corridor from the rain. All circulation spaces are naturally ventilated, only work spaces are equipped with mechanical air conditioning. The workspaces also have openable windows for natural ventilation options when needed.

The site plan consists of interconnected buildings that lie “in the middle of the forest” with green innercourts and in-between-building spaces.

As Lampung area is rich in clay/ ceramic mineral materials, local tiles and bricks are used as the main building materials. The traditional decorative pattern from the crochet embroidery pattern was adopted into a brick arrangement pattern.

Inspired by the row of traditional houses in the area, the buildings are laid out as rows of gable roofs. A diagonal line in the direction of Qibla becomes the path to the mosque and provides an interesting variation in the middle of orthogonal-grid site arrangement.